Mengenal DBR (Debt Burden Ratio) dalam Pengajuan KPR

Serba-serbi DBR (Debt Burden Ratio) dalam KPR

Mengajukan KPR untuk membeli rumah baru merupakan sebuah proses yang membutuhkan beragam pertimbangan dari pihak bank. Salah satunya adalah DBR si pemohon KPR. DBR ini singkatan dari Debt Burden Ratio. Kalau KPR kamu sebelumnya pernah ditolak atau nominalnya tidak sesuai ekspektasi meski memiliki penghasilan tetap, bisa jadi DBR ini penyebabnya.

Lantas, apa itu DBR dan bagaimana cara menghitungnya? Simak pembahasannya bersama Kania, ya!

Banner Dekoruma Properti

Mengenal DBR

ilustrasi keuangan yang seimbang untuk DBRpixabay.com

DBR merupakan perbandingan antara cicilan utang per bulan dengan pendapatan bersih per bulan. Prinsipnya, cicilan per bulan harus lebih rendah dari pendapatan. Saat mengajukan permohonan KPR untuk rumah baru ataupun properti lainnya, pihak bank akan mengecek DBR pemohon untuk bahan pertimbangan besar kredit yang akan diberikan. Bukan hanya untuk pihak bank, pertimbangan ini juga bermanfaat untuk pihak pemohon KPR di masa mendatang.

Cara Menghitung DBR

cara menghitung DBRpixabay.com

Rasio DBR masing-masing bank penyedia KPR itu berbeda-beda. Rasio DBR rendah berarti beban utang semakin kecil dan sebaliknya. Namun, kebanyakan bank memberi syarat rasio DBR pada kisaran angka 50%. Cara menghitungnya sangat mudah, cukup kalikan pendapatan bersih dengan rasio tersebut.

Sebagai contoh, misalnya pendapatanmu per bulan Rp8 juta. Maka perhitungan DBR-nya adalah sebagai berikut:

DBR = Rp8 juta x 50% = Rp4 juta

Dengan demikian, maksimal cicilan kredit perbankan yang dapat dimaklumi per bulannya adalah Rp4 juta. Untuk lebih detail, cari tahu rasio DBR yang diajukan oleh bank penyedia KPR pilihanmu!

DBR Berlaku untuk Semua Aspek

gambar dompet berisi kartu kredit sebagai ilustrasi DBRpixabay.com

Dengan contoh kasus di atas, apakah kamu bisa memperoleh KPR dengan nilai cicilan per bulan Rp4 juta? Belum tentu. Masalahnya adalah DBR tersebut mencakup seluruh aspek utang yang sedang kamu jalani. Misalnya, kamu tengah memiliki cicilan kartu kredit untuk gadget sebesar Rp1 juta dan kendaraan sebesar Rp2 juta. Maka DBR yang tersisa untuk cicilan KPR hanya Rp1 juta. Apabila kamu sudah berstatus menikah, DBR suami-istri dapat digabungkan untuk bahan pertimbangan pengajuan KPR.

Tujuan Diberlakukan DBR

mengenal DBR dalam pengajuan KPRpixabay.com

Pada awal pembahasan sudah dikatakan kalau DBR ini memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Bagi bank penyedia KPR, tentu tujuannya supaya bisa menerima pembayaran cicilan yang lancar dari pemohon KPR. Sedangkan bagi pemohon KPR, yang bersangkutan tetap bisa membayar cicilan KPR tanpa harus mengorbankan kebutuhan hidup lainnya. Untuk bayangan, 50% sisa pendapatan masih dapat digunakan untuk bayar listrik, transportasi ke tempat kerja, makan, bahkan liburan. 

Trik Menyiasati DBR

cara menyiasati DBR agar KPR disetujuipixabay.com

Kamu sudah menghitung besar DBR secara pribadi? Apabila plafon KPR yang akan diberikan bank lebih kecil dari ekspektasi atau berpeluang besar akan ditolak, jangan berkecil hati dulu. Kamu bisa coba trik untuk menyiasati angka Debt Burden Ratio supaya pengajuan KPR jadi lebih lancar. 

Pertama, tentu dengan melunasi utang-utang yang ada. Kalau sedang ada cicilan berjalan, sebaiknya tunggu hingga periode cicilan selesai sebelum mengajukan KPR. Nominal utang yang sudah berkurang akan meningkatkan nominal plafon KPR juga.

Cara kedua adalah dengan memperbesar nominal DP rumah baru atau properti yang hendak dibeli. Semakin besar DP, maka semakin kecil nominal cicilan per bulannya. Mengumpulkan DP dalam nominal besar memang butuh waktu lama dan sulit. Namun, peluang KPR disetujui akan lebih besar dan kedepannya kamu akan merasa lebih ringan saat mencicil.

Demikian pembahasan terkait DBR dalam pengajuan KPR dengan bonus menyiasatinya. Semoga bisa menjadi panduan sebelum kamu mengajukan KPR dan semoga prosesnya berjalan dengan lancar!

Temukan artikel dengan informasi bermanfaat lainnya di Dekoruma! Selain artikel, Dekoruma juga menyediakan layanan jual beli properti hunian, khususnya rumah dan apartemen melalui Dekoruma Properti, lho. Lokasinya pun ada dari berbagai daerah di Jabodetabek, seperti rumah dijual di Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Depok, hingga Bekasi. Yuk, cari hunian impianmu sekarang juga di Dekoruma!

Leave a Reply